Why Istilah Endesway?

Ini cerita teman saya seorang Producer di sebuah rumah produksi.

Suatu ketika dia mendapati Unit Manager-nya menuliskan “vidio” pada sebuah kwitansi. Demi meluruskan bahasa, dia kemudian menegur Unit Manager-nya agar menuliskannya dengan benar “Pake ‘E’, pakde…”

Apa yang terjadi kemudian adalah si pakde tadi datang dengan kwitansi baru bertuliskan “vedeo”.

Lucu. Lha iya lucu. Wong mestinya…. Apa hayoooo?

Ya. Di industri periklanan kita ini sering sekali kita memakai term/bahasa/istilah Inggris yang belum memiliki padanan yang pas dalam bahasa Indonesianya. Pun ketika kata “unduh” dan “unggah” diproklamirkan sebagai kata pengganti “download” dan “upload” dirasa masih asing untuk dipakai sebagai bahasa sehari-hari. Entah malas, belum terbiasa, butuh waktu atau sekedar gak funky untuk menyebutnya di kalangan sesama, dunno lah. You guys decide lah. At the end of the day, itu kan cuma cara kita berkomunikasi. Ceileeee…

Saya pribadi mendukung apa saja format yang dipakai. Mau bahasa Indonesia kek, Endeswey kek, dicampur-campur kek. Ndak pa-pa. Asal komunikasinya lancar dan dimengerti dua arah. Walau dari hati yang paling dalam, saya ingin sekali orang Indonesia lebih fasih berbahasa Inggris. Kalau harus dibanding dengan negara-negara tetangga saingannya. Ini sangat-sangat diperlukan demi kelancaran sebuah komunikasi sehari-hari di mana di industri periklanan kita banyak berinteraksi dengan para ekspatriat dari berbagai lapisan. Nanti dulu, saya menulis ini bukan mau membahas tentang ekspatriat ya! Ada waktunya :)

Dalam traffic pekerjaan sehari-hari kita sering mendapati istilah-istilah yang bersliweran menurut pemahaman individu masing-masing dan belum ada satu polisi atau forum resmi yang meluruskan apa arti dari masing-masing kata endesway itu.

Tersebutlah kata ‘tone done’ yang semestinya ‘tone down’. ‘Ill-feel’ terdistorsi menjadi ‘ill-fill’ (ini sebenernya bahkan bukan term Inggris kan ya, Mas Ismet?).Feeling; feel in; fill in. Worthed – worth it. Dipstick, deep stick. Convert zone. File-nya di-comfort. Plis deh.

Banyak lho.

Banyak sekali kata yang ketika digampangkan pengucapannya bisa memberi arti yang salah bagi orang yang terbiasa mendengar dengan bahasa ibunya. Sehingga memberikan arti dan komunikasi yang salah ke depannya. Akhirnya, rempong.

Beruntung hal ini masih banyak ruang kompromi dan toleransi dalam pelaksanaannya. Namun isu ini sebenarnya sangat tidak efektif ketika kesalah-pahaman terjadi dalam sebuah komunikasi email atau pesan tulis lainnya, di mana sebuah urgency sedang terjadi. Maaf, selalu terjadi.

Kasus broken English ini pernah menjadi pembahasan panjang di milis CCI dulu. Atau masih, saya tidak begitu mengikuti. Tapi pendapat saya masih seperti paragraf di atas. Selagi komunikasi berjalan baik, grammar Inggris yang tidak sempurna bukan masalah besar.

Tapi pemahamannya.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Justru Gue Orang Indonesia

Suatu ketika di malam yang buta sebelum tidur, gue nge-tweet sesuatu yang bikin baik gue dan yang baca mungkin gerah:

“Selamat malam, jangan mencintai Indonesia dengan berlebihan. Camkan :)”

Malam itu, malam menjelang final Thomas Cup di Malaysia di mana Indonesia akan bertarung melawan China. Sudah sangat disyukuri bahwa itu China. Sekiranya itu Malaysia mungkin gue tidak akan menuliskan ini. Beda cerita cing!

Tersebutlah seorang teman dengan intens membakar semangat penghuni bumi pertiwi Indonesia yang ada di populasi Twitter untuk mendukung Tim Indonesia. Layaknya fans fanatik olahraga di mana pun di antero dunia. Gue bisa bayangkan ketika men-tweeet di timeline, mungkin dia mencat mukanya merah dan putih dan bersyalkan “MERDEKA” atau bendera Iwan Fals berbackground rasta. Ya silakanlah dikembangkan imajinasinya.

Namun apa yang sangat membuat gue geli dari tweet tersebut adalah sebuah ajakan, di mana di ‘maklumat’ tersebut menghimbau agar seluruh WNI dan TKI di Kuala Lumpur mengambil cuti untuk memberikan dukungan penuh kepada tim Indonesia di laga final itu. Walau hari itu hari ahad.

Ya, untuk WNI di sana, gue bisa maklum. Tapi untuk TKI? Sekelebat pikiran gue langsung membayangkan bagaimana mereka dengan akal yang entah bagaimana bisa meminta izin kepada majikannya di sana untuk dapat hadir dan sejenak bergabung dengan masyarakat Indonesia lainnya. Sudah pasti sulit. Dengan gambaran mereka sebagai TKI selama inilah yang jadi alasan gue untuk bilang itu sulit. Bagaimana detilnya, gue gak tertarik untuk bahas.

Pun dengan berusaha jenaka, gue menyempatkan menuliskan tweet bernada lucu: Gimana mungkin? Ntar kalo malah jadi ribut, repot lagi dong kita? Kira-kira begitu. Tau sendiri kan sensitifnya hubungan Indonesia dan Malaysia. 2 serumpun yang sok saling mengungguli itu :)

Setersirat mungkin gue mencoba merelevansikan eforia tersebut terhadap isu yang di benak kita sudah tertanam dan terbakar lagi oleh sehelai batik. Entah tendensi dari kalimat semangat tadi adalah sengaja, maupun tidak. Tapi jujur aja.

Sudah bisa ditebak, tweet gue di atas mendapat reaksi yang memancing perdebatan sengit. Bahkan ada yang langsung saja menohok menyudutkan. Memberi label dan segala macam. Biasalah, social media. Tidak ada saringan maupun polisi. Itu memang resiko. Dan terserah kita bagaimana mau membawa pembicaraan tersebut.

Untuk itu pulalah gue tergerak menjelaskannya di tulisan ini tentang keberpihakan gue terhadap ‘menjadi orang Indonesia’. Berikut dengan perjuangannya di masa sekarang.

Bahwa ketika kita berkumpul untuk sebuah perjuangan suka susah ternyata. Dinamikanya sudah sangat berwarna. Berikut kepentingannya. “A” kata si B, belum tentu “B” kata si A. Dan ketika suara tersebut terlabel dengan sebuah kumpulan, selalu ada keinginan untuk membela kumpulan tersebut. Sedalam apa pun pengertian mereka. Tentang apa yang dia bela. (Lalu diperjuangkan?)

Berpihak.

Gue urung ikut berpihak dengan sebuah kumpulan saat ini. Atau kapan pun nanti.

“Ya abis gitu siiiih… ” itu ekspresi yang tepat.

Gue urung bersependapat dengan suara yang mungkin lebih besar maknanya, dalam menunjukkan kecintaan negrinya, kalau tidak ikut sensitif dengan isu yang sedang berlaku; Mengajak TKI cari ribut ama majikannya. Di negri orang. Dan ini memang pendapat gue sendiri: bukannya tidak mungkin ajakan itu akan menyerempet ke isu Indonesia – Malaysia yang kapan saja bisa ‘dibakar’ lagi, hai saudara setanah airkuuuwh!

Lingkup permasalahan gue memang/mungkin kecil. Tapi memang banyak hal-hal kecil yang kita kesampingkan semata-mata untuk mencapai gambaran besarnya. Terlalu banyak akhirnya gak sempat ditelaah lebih baik, lalu… ya gitu-gitu lagi. Berjalan dengan luka yang diabaikan terus.

Gue cuma ingin memperbaiki luka-luka kecil tersebut untuk gambaran yang lebih enak dilihat. Lebih berterima di mata orang. Dan kita tidak lagi dipandang sebelah mata, seperti selama ini.

Itu yang gue sebut perjuangan.

Catatan: Indonesia kalah 3-0 atas China. Eits, Tim Indonesia benar-benar berjuang lho. Berikut semua yang mendukung di stadion. Dan di timeline twitter. Gue bangga. Justru.

ps. tengkyu untuk Ruri dan Patty. Udah ngingetin untuk nulis.

1 Comment

Filed under Uncategorized

Situ Baik Yes?

Kalau banyak orang memaki pengendara di Jakarta dengan “Woi goblok! SIM lo pasti nembak ye!” biasanya benar-benar aja. Ribet dan malasnya kita melalui proses yang panjang – belum lagi tempatnya jauh banget itu – membuat kita sering dan banyak yang memilih untuk mengambil jalan pintas. Nge-calo-in. Pun masih harus ke tempatnya yang jauh itu lho :)

Belum lagi, tidak jarang si pemaki tadi sebenernya pemegang SIM hasil calo-an juga. Rempong ya?

Bisa dimengerti dalam hitungan split-second makian apa pun bisa keluar dari mulut.

Kalau tiba-tiba saja ada mobil yang menyelak antrian gak pakai lampu ‘sen’. Atau dengan senangnya membunyikan klakson yang merongrong.  Belum lagi kelakuan sepeda motor yang main salip sana sini.  Kalau baret ya maap, kan situ lebih kaya – punya mobil. Ah pokoknya  ada 1001 macam kejadian di jalanan Jakarta ini yang berlomba-lomba mencari perhatian. Di samping masalah-masalah genting negara itu sendiri.

Tapi mungkin sangat jarang orang yang mengalami kejadian seperti ini:

Dari berjuta-juta mobil miskin dan kaya yang berseliweran di jalanan itu, ketika salah satu dari mobil itu menyerempet mobil Anda, yang jelas-jelas itu adalah kesalahan si ‘penabrak’, tibalah giliran kedua pemilik kendaraan untuk turun dari kendaraan dan menyelesaikan perkara. Berbagai pikiran marah dan kalut sudah berebutan di kepala. Beberapa sudah menjadi makian, beberapa lagi sudah menghitung biaya kerusakannya. Waktu berjalan, rencana atau janji lain sepertinya akan tertunda beberapa saat.

Tak dinyana tak disangka, pemirsa… Orang yang keluar dari kendaraan tersebut adalah orang yang kita kenal. Untuk lebih mendramatisir keadaan, sebagai seorang suami, orang tersebut masih saudara dekat dari istri, yang dalam peradatan normatif umumnya sering dirasa harus lebih dihormati porsi kegengsiannya.

So, what to do? What to say?

Stop sampai di sini dulu.

Kejadian ini belum atau tidak pernah terjadi pada gue. Ini hanya sekedar pikiran iseng gue ketika sering dengan bersabar mengantri di kemacetan lalu lintas. Dan gue masih berdoa untuk hal ini tidak terjadi di kemudian hari.

Jadi, bisa kebayang dong situasi yang jengah tadi jika suatu saat terjadi pada kita?

Peserta rally macet Jakarta itu bisa siapa saja. Bisa teman, bisa bukan teman. Bisa atasan, bisa kerabatnya atasan.  Bisa orang sakit, bisa juga waras. Bisa orang Batak Metromini, bisa juga pengemudi lelet.  Bisa pejabat, … ya gitu deh.

Sebisa mungkin mbok ya berkendara itu saling menghargai gitu lho. Polisi-polisinya juga pada tugasnya gitu lho. Biar lebih enak gitu lho.

Titidije Dedidores. Hati-hati di jalan dengan disertai doa restu!

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Blog Baru

Baiklah. Setelah hampir 5 tahun nge-blog dengan “Di Pelipir Zaman” http://dikisatya.blogspot.com. Gue memutuskan untuk membuat blog baru ini.

Kayak pemerintahan aja, 5 tahun moso ya gak bosen sih :)

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

1 Comment

Filed under Uncategorized