Situ Baik Yes?

Kalau banyak orang memaki pengendara di Jakarta dengan “Woi goblok! SIM lo pasti nembak ye!” biasanya benar-benar aja. Ribet dan malasnya kita melalui proses yang panjang – belum lagi tempatnya jauh banget itu – membuat kita sering dan banyak yang memilih untuk mengambil jalan pintas. Nge-calo-in. Pun masih harus ke tempatnya yang jauh itu lho🙂

Belum lagi, tidak jarang si pemaki tadi sebenernya pemegang SIM hasil calo-an juga. Rempong ya?

Bisa dimengerti dalam hitungan split-second makian apa pun bisa keluar dari mulut.

Kalau tiba-tiba saja ada mobil yang menyelak antrian gak pakai lampu ‘sen’. Atau dengan senangnya membunyikan klakson yang merongrong.  Belum lagi kelakuan sepeda motor yang main salip sana sini.  Kalau baret ya maap, kan situ lebih kaya – punya mobil. Ah pokoknya  ada 1001 macam kejadian di jalanan Jakarta ini yang berlomba-lomba mencari perhatian. Di samping masalah-masalah genting negara itu sendiri.

Tapi mungkin sangat jarang orang yang mengalami kejadian seperti ini:

Dari berjuta-juta mobil miskin dan kaya yang berseliweran di jalanan itu, ketika salah satu dari mobil itu menyerempet mobil Anda, yang jelas-jelas itu adalah kesalahan si ‘penabrak’, tibalah giliran kedua pemilik kendaraan untuk turun dari kendaraan dan menyelesaikan perkara. Berbagai pikiran marah dan kalut sudah berebutan di kepala. Beberapa sudah menjadi makian, beberapa lagi sudah menghitung biaya kerusakannya. Waktu berjalan, rencana atau janji lain sepertinya akan tertunda beberapa saat.

Tak dinyana tak disangka, pemirsa… Orang yang keluar dari kendaraan tersebut adalah orang yang kita kenal. Untuk lebih mendramatisir keadaan, sebagai seorang suami, orang tersebut masih saudara dekat dari istri, yang dalam peradatan normatif umumnya sering dirasa harus lebih dihormati porsi kegengsiannya.

So, what to do? What to say?

Stop sampai di sini dulu.

Kejadian ini belum atau tidak pernah terjadi pada gue. Ini hanya sekedar pikiran iseng gue ketika sering dengan bersabar mengantri di kemacetan lalu lintas. Dan gue masih berdoa untuk hal ini tidak terjadi di kemudian hari.

Jadi, bisa kebayang dong situasi yang jengah tadi jika suatu saat terjadi pada kita?

Peserta rally macet Jakarta itu bisa siapa saja. Bisa teman, bisa bukan teman. Bisa atasan, bisa kerabatnya atasan.  Bisa orang sakit, bisa juga waras. Bisa orang Batak Metromini, bisa juga pengemudi lelet.  Bisa pejabat, … ya gitu deh.

Sebisa mungkin mbok ya berkendara itu saling menghargai gitu lho. Polisi-polisinya juga pada tugasnya gitu lho. Biar lebih enak gitu lho.

Titidije Dedidores. Hati-hati di jalan dengan disertai doa restu!

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s