Justru Gue Orang Indonesia

Suatu ketika di malam yang buta sebelum tidur, gue nge-tweet sesuatu yang bikin baik gue dan yang baca mungkin gerah:

“Selamat malam, jangan mencintai Indonesia dengan berlebihan. Camkan :)”

Malam itu, malam menjelang final Thomas Cup di Malaysia di mana Indonesia akan bertarung melawan China. Sudah sangat disyukuri bahwa itu China. Sekiranya itu Malaysia mungkin gue tidak akan menuliskan ini. Beda cerita cing!

Tersebutlah seorang teman dengan intens membakar semangat penghuni bumi pertiwi Indonesia yang ada di populasi Twitter untuk mendukung Tim Indonesia. Layaknya fans fanatik olahraga di mana pun di antero dunia. Gue bisa bayangkan ketika men-tweeet di timeline, mungkin dia mencat mukanya merah dan putih dan bersyalkan “MERDEKA” atau bendera Iwan Fals berbackground rasta. Ya silakanlah dikembangkan imajinasinya.

Namun apa yang sangat membuat gue geli dari tweet tersebut adalah sebuah ajakan, di mana di ‘maklumat’ tersebut menghimbau agar seluruh WNI dan TKI di Kuala Lumpur mengambil cuti untuk memberikan dukungan penuh kepada tim Indonesia di laga final itu. Walau hari itu hari ahad.

Ya, untuk WNI di sana, gue bisa maklum. Tapi untuk TKI? Sekelebat pikiran gue langsung membayangkan bagaimana mereka dengan akal yang entah bagaimana bisa meminta izin kepada majikannya di sana untuk dapat hadir dan sejenak bergabung dengan masyarakat Indonesia lainnya. Sudah pasti sulit. Dengan gambaran mereka sebagai TKI selama inilah yang jadi alasan gue untuk bilang itu sulit. Bagaimana detilnya, gue gak tertarik untuk bahas.

Pun dengan berusaha jenaka, gue menyempatkan menuliskan tweet bernada lucu: Gimana mungkin? Ntar kalo malah jadi ribut, repot lagi dong kita? Kira-kira begitu. Tau sendiri kan sensitifnya hubungan Indonesia dan Malaysia. 2 serumpun yang sok saling mengungguli itu🙂

Setersirat mungkin gue mencoba merelevansikan eforia tersebut terhadap isu yang di benak kita sudah tertanam dan terbakar lagi oleh sehelai batik. Entah tendensi dari kalimat semangat tadi adalah sengaja, maupun tidak. Tapi jujur aja.

Sudah bisa ditebak, tweet gue di atas mendapat reaksi yang memancing perdebatan sengit. Bahkan ada yang langsung saja menohok menyudutkan. Memberi label dan segala macam. Biasalah, social media. Tidak ada saringan maupun polisi. Itu memang resiko. Dan terserah kita bagaimana mau membawa pembicaraan tersebut.

Untuk itu pulalah gue tergerak menjelaskannya di tulisan ini tentang keberpihakan gue terhadap ‘menjadi orang Indonesia’. Berikut dengan perjuangannya di masa sekarang.

Bahwa ketika kita berkumpul untuk sebuah perjuangan suka susah ternyata. Dinamikanya sudah sangat berwarna. Berikut kepentingannya. “A” kata si B, belum tentu “B” kata si A. Dan ketika suara tersebut terlabel dengan sebuah kumpulan, selalu ada keinginan untuk membela kumpulan tersebut. Sedalam apa pun pengertian mereka. Tentang apa yang dia bela. (Lalu diperjuangkan?)

Berpihak.

Gue urung ikut berpihak dengan sebuah kumpulan saat ini. Atau kapan pun nanti.

“Ya abis gitu siiiih… ” itu ekspresi yang tepat.

Gue urung bersependapat dengan suara yang mungkin lebih besar maknanya, dalam menunjukkan kecintaan negrinya, kalau tidak ikut sensitif dengan isu yang sedang berlaku; Mengajak TKI cari ribut ama majikannya. Di negri orang. Dan ini memang pendapat gue sendiri: bukannya tidak mungkin ajakan itu akan menyerempet ke isu Indonesia – Malaysia yang kapan saja bisa ‘dibakar’ lagi, hai saudara setanah airkuuuwh!

Lingkup permasalahan gue memang/mungkin kecil. Tapi memang banyak hal-hal kecil yang kita kesampingkan semata-mata untuk mencapai gambaran besarnya. Terlalu banyak akhirnya gak sempat ditelaah lebih baik, lalu… ya gitu-gitu lagi. Berjalan dengan luka yang diabaikan terus.

Gue cuma ingin memperbaiki luka-luka kecil tersebut untuk gambaran yang lebih enak dilihat. Lebih berterima di mata orang. Dan kita tidak lagi dipandang sebelah mata, seperti selama ini.

Itu yang gue sebut perjuangan.

Catatan: Indonesia kalah 3-0 atas China. Eits, Tim Indonesia benar-benar berjuang lho. Berikut semua yang mendukung di stadion. Dan di timeline twitter. Gue bangga. Justru.

ps. tengkyu untuk Ruri dan Patty. Udah ngingetin untuk nulis.

1 Comment

Filed under Uncategorized

One response to “Justru Gue Orang Indonesia

  1. patty

    sama aku pun tak setuju nasionalisme membabi buta. dan aku senang kamu tetap mempertahankan kebenconganmuuwwh dengan saudara setanah airkuuwwh… lanjutkan!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s